Sabtu, 19 Januari 2013

Ketergantungan Masyarakat Terhadap Media Sosial


Ketergantungan Masyarakat Terhadap Media Sosial

Pendahuluan
            Dewasa ini, perkembangan teknologi semakin canggih. Dari tahun ke tahun, temuan hasil karya-karya yang inovatif semakin memudahkan pekerjaan manusia. Teknologi tersebut sangat memudahkan manusia, terutama dalam hal berkomunikasi. Dari temuan sebelumnya seperti surat pos, kini “disulap” menjadi e-mail atau surat elektronik. Media massa seperti media cetak dan media elektronik juga berkembang pesat. Untuk memperoleh informasi yang cepat dan terbaru, kini cukup dengan internet. Berkembangnya internet menjadi trend masa kini, yang dikategorikan sebagai new media.
            Internet awalnya digunakan oleh Amerika untuk keperluan militer. Pencetusnya bernama ARPA-net yang menghubungkan satu komputer ke komputer lain. Kemudian berkembang dan akhirnya lahirlah sebuah internet (interconnected network). Internet awalnya digunakan di sebuah universitas di Amerika. Lama-kelamaan internet dapat diakses di setiap rumah-rumah melalui kabel telepon. Hingga sekarang internet dapat diakses melalui handphone, pc tablet, dan gadget-gadget lainnya.
Situs di internet atau biasa disebut web yang tersedia diakses oleh penggunanya yang tidak ada habisnya. Munculnya internet di masyarakat dapat melihat dunia lebih luas. Menurut Sardar (2008:159), “Pendukung web berpendapat bahwa web membuka era demokratisasi baru dengan memberikan kuasa kepada orang biasa untuk memproduksi dan menerima informasi dan hiburan dari seluruh dunia”.
            Internet banyak digunakan karena dapat berbagi informasi secara cepat. Beberapa situs yang tersedia yaitu media sosial atau social media. Media sosial yaitu media online, atau situs yang menyediakan penggunanya untuk berbagi tulisan, obrolan, dan lain-lain. Situs media sosial seperti blog, facebook, twitter, wordpress, friendster, myspace, google+ dan masih banyak lagi situs-situs lainnya.
Masyarakat yang menggunakan media sosial sebagai alat komunikasi, dapat mempererat hubungan satu sama lain. Dengan media sosial kita juga bisa menambah teman. Sebelum kita dapat terhubung dengan teman di media sosial, kita harus punya perangkat pendukung seperti komputer, handphone, atau gadget lainnya yang dapat mengakses internet. Media sosial diakses penggunanya bertujuan untuk saling berbagi informasi, saling berbagi foto atau video. Media sosial memang dirancang untuk itu, seperti halnya Facebook. Situs pertemanan ini dibuat oleh mahasiswa Amerika. Awalnya pengguna facebook hanya di kalangan universitas itu sendiri. Kemudian berkembang hingga sekarang penggunanya mencapai jutaan orang.
            Maraknya situs pertemanan di Indonesia disambut oleh masyarakat yang kebanyakan penggunanya adalah remaja. Penggunaanya dari tahun ke tahun semakin meningkat, mulai dari dewasa dan mewabah ke orang tua, bahkan anak-anak. Mereka menggunakan situs pertemanan karena kebanyakan remaja Indonesia cenderung mengikuti lifestyle yang terbaru. Apalagi didukung dengan teknologi terbaru yang kini sedang heboh-hebohnya juga, misalnya dengan smartphone atau pc tablet.
            Selain itu terdapat situs media sosial seperti blog, wordpress yang menyediakan penggunanya dapat memposting tulisan atau artikelnya.  Seperti halnya blog, disini kita dapat menulis dan mempostingnya sehingga dapat dilihat oleh pengguna lain. Isinya dapat berupa tentang kesehatan, ilmu pendidikan, catatan harian atau hal-hal lain yang kita tulis. Tulisan yang dimuat di blog atau wordpress dapat kita komentari sehingga terjadi komunikasi di dunia maya.
             Banyaknya situs media sosial yang populer dan berkembangya teknlogi, makin banyak pula masyarakat yang menggunakannya. Karena kebutuhan manusia tidak ada habisnya dan era saat ini masyarakat selalu sadar informasi. Tahun ke tahun pengguna situs media sosial di Indonesia semakin marak. Ada pula masyarakat mengambil kesempatannya ini sebagai media promosi, seperti berbisnis dan promosi lewat twitter atau facebook, berkampanye politik dan lain-lain. 
            Banyak produsen teknologi yang bersaing di Indonesia karena kesempatan pasar yang masyarakatnya “haus” gadget terbaru. Produsen membuat inovatif terbaru yang diminati oleh konsumen. Harga yang ditawarkan pun bisa dikatakan tidak mahal. Hanya dengan handphone mereka bisa mengakses internet, dan membuka situs media sosial yang disediakan. Media sosial yang banyak diakses adalah situs pertemanan. Mereka bisa menghabiskan berjam-jam dengan di depan komputer, atau dengan handphone yang didukung untuk mengakses internet. Aplikasi yang diberikan cukup beragam, seperti Facebook. Banyak fitur yang diberikan, seperti game, videocall, chatting, berbagi foto atau video, update status, dan masih banyak lagi. Menjelajah media sosial tidak ada habisnya. Hal ini bisa dikatakan bahwa ketergantungan masyarakat terhadap media sosial sudah mewabah di negeri ini.



Perubahan Budaya
            Melihat budaya dahulu, berkomunikasi tatap muka merupakan hal yang terjadi setiap harinya. Karena manusia adalah makhluk sosial yang saling membutuhkan satu sama lain. Tidak mungkin seorang manusia tidak berinteraksi dengan orang lain sama sekali. Masyarakat tidak tergantung pada alat komunikasi modern seperti telepon. Budaya silaturahmi masih terasa saat itu, yang menjalin hubungan akrab antar satu sama lain. Berkenalan dengan orang lain pun, pastinya dengan “face to face”.
            Dengan hadirnya surat-menyurat kemudian muncul teknologi telepon, handphone atau sms, hingga media sosial, sedikit demi sedikit budaya tatap muka sangat jarang terjadi. Hadirnya internet yang memudahkan untuk mengakses media sosial, yang memudahkan untuk berkomunikasi sesama pengguna justru membawa pengaruh lain yang membentuk budaya baru. Sebagai contoh pengucapan hari raya Idul Fitri. Hari besar umat Islam ini di Indonesia dikenal dengan budaya silaturahmi. Dari rumah ke rumah, bersalaman dan bertatapan muka kepada sesama umat yang menjalankannya. Jarak yang dekat maupun jauh bisa bertemu langsung. Tetapi lama-kelamaan hadirnya media sosial, cukup dengan mengucapkan melalui media ini. Media sosial yang membentuk budaya baru memang memudahkan kita untuk berkomunikasi, tetapi budaya silaturahmi ini seakan-akan “luntur”.  
            Salah satu penyebabnya yaitu modernisasi.
Modernisasi dapat diartikan sebagai perubahan masyarakat dari masyarakat tradisional yang selalu tertutup berubah menjadi masyarakat yang lebih terbuka terhadap informasi-informasi terbaru. Modernisasi yang tidak lain merupakan paham yang pada dasarnya berkiblat pada kehidupan kebarat-baratan baik dari segi budaya, gaya bahasa, maupun sampai dengan sesuatu yang prinsip dalam diri seseorang, ini merupakan sebuah perubahan yang tidak terlalu cocok dengan kebudayaan dan pedoman hidup orang di Indonesia (Arfin, dkk. 2010: 113)
            Budaya berkomunikasi melalui media sosial membawa dampak lain jika keseringan menggunakannya. Dalam buku teori komunikasi massa (McLuhan, dalam Andy dan Farid (eds), 2010: 39) mengatakan bahwa “dalam menggunakan media, orang cenderung mementingkan isi pesannya saja dan orang sering kali tidak menyadari bahwa media yang menyampaikan pesan itu juga memengaruhi kehidupannya”.
            Sebagai contohnya adalah Facebook. Situs pertemanan ini bisa membawa pengaruh negatif jika tidak menyikapinya dengan benar. Fenomena kemunculan situs-situs jejaring sosial semacam FB memberi dampak yang cukup signifikan dalam mengubah pola interaksi sosial antara sesama manusia dalam berkomunikasi (Pratiwi, Jurnal Komunikasi, No.2, April 2012: 152). Masyarakat yang aktif di dunia maya, belum tentu aktif di dunia nyata. Dalam hal berinteraksi secara langsung, mereka masih kurang. Mereka bisa menghabiskan waktunya hanya dengan “bermain” Facebook.
            Masyarakat yang masih mengandalkan media sosial sebagai alat komunikasi, mereka yang kurang berhati-hati dalam menyikapinya bisa saja melupakan teman-teman “fisik” disekitarnya. Mereka cukup berkomunikasi melalui media sosial tanpa bertemu langsung. Karena kurangya bertatap muka, bisa jadi seseorang “kurang mahir” dalam berbicara. Lama-kelamaan seseorang dapat melupakan kehadiran kehidupan nyata disekitarnya.
            Fenomena chatting, videocall, comment, update status, tweet, yang selalu melekat di kehidupan sehari-hari seolah-olah sangat penting. Tak jarang jika seseorang bertemu dengan sesama teman penggunanya secara langsung untuk meminta balasan pesan, “like statusku”, “balas commentku”. Bertatap muka pun beralih ke dunia maya. Mereka berkomunikasi cukup dengan media sosial. Apalagi media sosial yang didukung dengan aplikasi tambahan yang cukup menghibur. Mereka terjebak di dunia maya seakan tidak ada habisnya. Para pengguna internet hanyut dalam realitas virtual yang bersifat imajinatif bahkan fantasi (Adam, Jurnal Komunikasi, No.1, Oktober 2009 : 82).
            Online adalah sebuah kosakata umum dalam dunia keseharian kita yang merujuk pada koneksi kita dengan dunia internet (Adam, Jurnal Komunikasi, No.1, Oktober 2009 : 73). Budaya online sudah mewabah di masyarakat. Media sosial seperti Facebook, Twitter tidak ada peraturan kosakata yang digunakan. Masyarakat yang menggunakannya bebas menulis walaupun ejaannya kurang benar. Sering terjadi penyingkatan kata, yang memengaruhi dalam pembelajaran kosakata dengan benar. Sebagai contoh kata “kamseupay”, kata ini kepanjangan dari “kampungan sekali uh payah” merupakan sebutan dari seseorang yang “kampungan”, yang kurang trend, yang tidak mengerti lifestyle terkini. Dalam pembicaraan sehari-hari pun kata tersebut diucapkan jika terdapat sosok seseorang yang “kamseupay”. Sehingga budaya pengucapan yang benar menjadi berubah karena media sosial.

Terjebak di Media Sosial
Apakah efek negatif dari media sosial dapat dihindari? Tentu saja bisa, dengan menyikapi dan bertanggung jawab dalam menggunakannya kita dapat menggunakan media sosial secara bijak. Media sosial diciptakan untuk memudahkan kita berkomunikasi, bukan mempersulit. Komunikasi memang diperlukan, apalagi jarak yang jauh tidak ada halangan jika kita menggunakan media sosial.
                Dunia maya memang menarik, bebas, dan tidak ada habisnya. Media sosial dibuat se-menarik mungkin agar penggunanya bertambah dan mendaftarkan dirinya di dunia “virtual” ini. Hanya dengan duduk manis di depan laptop yang terhubung dengan internet, kita bisa menjelajah semau kita. Media sosial tiada henti berinovatif memberikan aplikasi yang menarik untuk dikunjungi. Tanpa sadar kita menggunakan media sosial dengan menghabiskan waktu berjam-jam lamanya hanya dengan laptop dan masih duduk manis tanpa memperdulikan orang lain di sekitar kita. Hal inilah yang membuat “kecanduan” mengakses media sosial.
            Pada buku teori komunikasi massa (McLuhan, dalam Andy dan Farid (eds), 2010: 31): “We Shape our tools and they in turn shape us” (Kita membentuk peralatan kita dan mereka pada gilirannya membentuk kita).
            Apakah kita mau, teknologi yang dibuat oleh manusia kemudian teknologi itu sendiri mempersulit manusia? Menghadapi persoalan tersebut kita harus menyikapi dalam menggunakan sebuah teknologi. Berhati-hati dalam menggunakan teknologi itu sangat perlu. Seperti halnya, kita menggunakan media sosial. Media sosial itu sendiri bertujuan untuk berinteraksi dengan satu sama lain secara tidak langsung atau tidak bertatap muka. Fasilitas yang diberikan memang memudahkan untuk berhubungan dengan jarak yang jauh. Terhubung dengan dunia maya, kita juga harus memperdulikan dunia nyata kita.

Kesimpulan
            Perkembangan teknologi yang inovatif memudahkan pekerjaan manusia, terutama dalam hal berkomunikasi. Gadget yang dilengkapi akses internet dapat membuka situs media sosial. Media sosial adalah media online, atau situs yang menyediakan penggunanya untuk berbagi tulisan, obrolan, dan lain-lain. Situs media sosial seperti Facebook, Twitter, Blog, dan lain-lainnya dapat berbagi informasi satu sama lain. Masyarakat menggunakan media sosial sebagai alat komunikasi. Media sosial menyediakan berbagai fitur yang disediakan secara menarik.
            Selain itu perubahan budaya pada pengguna media sosial banyak terjadi. Komunikasi secara langsung menjadi jarang terjadi. Perubahan tata bahasa di media sosial membawa pada kehidupan sehari-hari. Berlama-lama mengakses situs media sosial dapat “kecanduan” yang memberikan beberapa dampak seperti menghabiskan waktu dengan percuma, melupakan kehidupan nyata atau melupakan teman-teman “fisik” di sekitarnya. Sedikit demi sedikit komunikasi tatap muka jarang terjadi, dan kemahiran berbicara secara langsung bisa saja berkurang.
            Teknologi yang dibuat manusia seharusnya memudahkan pekerjaan manusia itu sendiri, bukan menyusahkan. Masyarakat yang bergantung kepada media sosial sebagai alat komunikasi seharusnya lebih mementingkan komunikasi tatap muka atau secara langsung. Memang media sosial ini sudah melekat di masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga mereka sulit membayangkan hidup tanpa media sosial; tanpa Facebook, tanpa Twitter, tanpa Blog.


Daftar Pustaka
Adam, Luthfi. “Online Culture”. Jurnal Komunikasi, Vol. 4 No. I (Oktober, 2009), hal. 73-82.
Mardaniah, Nurul. “Media Massa Dengan Senjata Penghancurnya,” Media Dengarkan Aku eds. Mokhammad Suwaid, Eka Januar Wahyuningtiyas, Firdaus Fidmatan. Yogyakarta: KAKI-KOE dan Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang, 2010.
McLuhan, Marshall. “Technological Determinism,” Teori Komunikasi Massa, eds. Dr. Andy Corry Wardhani, M.Si., Dr. Farid Hamid U, M.si. Bogor: Ghalia Indonesia, 2012.
Pratiwi, Dian Fatma. “Facebook, Silaturahmi, dan Budaya Membaca : Studi Hubungan antara Penggunaan Situs Jejaring Sosial (facebook) dengan Budaya Silaturahmi dan Membaca di Kalangan Mahasiswa FISHUM UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.” Jurnal Komunikasi, Volume 4, No.2 (April, 2010), hal. 152.
Sardar, Ziauddin., Borin Van L. Membongkar Kuasa Media, terj. Dina Septi Utami. Yogyakarta: Resist Book, 2008.


catatan : tulisan ini sebagai tugas kuliah

4 komentar:

  1. Seseorang yang tidak puas dengan komunikasi di kehidupan sosial di lingkunganya dapat melarikan diri ke dunia maya #sosialmedia, kedalam dunia maya yang sesuai dengan apa yang diharapkan,yang diinginkannya (yusuf dan Subekti (2010 :96)

    BalasHapus
  2. Slamat siang Mas, saya membaca referensi jurnal di tulisan anda ini. apa saya bisa minta file pdf jurnal tersebut?
    karena saya ada tugas kampus membuat pertunjukkan promosi kesehatan terkait gadget dan anti sosial.
    dan saya perlu jurnal sebagai referensi membuat latar belakang masalah makasih sebelumnya

    Veve Stephani-FKM UJ.

    BalasHapus
  3. Terima kasih ya gan atas artikelnya, thanks for sharing :)

    BalasHapus